Jumat, 08 Agustus 2008

Bung Karno: Revolusi yang Belum Selesai


Oleh: Olanama

Siapa mengira kalau Bung Karno, bapak proklamator itu, masih menyisakan utang 70 sen di bengkel dan dan percetakan Arnoldus Ende? Tak akan ada yang menuntut bayar, selain kebanggaan bahwa sejarah pembuangan Soekarno meninggalkan jejak di kota Ende antara tahun 1934-1938. Klub sandiwara besutan Soekarno sering memesan karcis di percetakan Arnoldus dan meminjam aula Imakulata, sebagai tempat pertunjukan. Namun, lebih dari sekedar jejak sejarah, Soekarno ternyata kerap bertukar pikiran dengan para Pastor Belanda di Biara Santo Yosef Ende; sesuatu yang sangat berguna dalam menemukan pijakan filsafat bagi Pancasila, mengingat latar belakang teologi filsafat dari para misionaris itu.

Kini, di saat Pancasila kehilangan kegaibannya dalam berbagai pandangan sektarian, kita perlu menemukan kembali universalitas yang diwariskan Soekarno dalam dasar negara kita. Maka, tepatlah penerbit Nusa Indah dalam buku Bung Karno dan Pancasila, merunut kembali kisah empat tahun pembuangan Soekarno di Flores, khususnya di Kota Ende, yang diyakini menjadi masa inspiratif bagi lahirnya Pancasila. Simaklah tulisan Bapak Djae Bara, salah seorang sahabat dekat Soekarno di Ende: ”Sesudah Bung Karno menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, beliau datang ke kota Ende pada tahun 1950. Bung Karno mengatakan atau menunjukkan bahwa pohon sukun ini adalah tempat renungan Pancasila atau sekarang dasar Filsafat Negara Indonesia yang sekarang sudah merdeka ini” (hlm. 78). Kebenaran kata-kata Djae Bara nyata dalam wawancara Cindy Adams dengan Soekarno dalam buku Bung Karno Peyambung Lidah Rakyat Indonesia: “Tempat pelarian menyendiri yang kugemari adalah di bawah pohon sukun yang menghadap ke laut…Aku melihat pekerjaan Trimurti dalam agama Hindu. Aku melihat Brahma Yang Maha Pencipta dalam tunas yang berkecambah di kulit kayu keabu-abuan itu. Aku melihat Wishnu Yang Maha Pelindung dalam buah yang lonjong berwarna hijau. Aku melihat Shiwa Yang Maha Perusak dalam dahan-dahan mati yang gugur dari batangnya yang besar…Aku memandangi samudra bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukul pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir, bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinya. Pasang naik dan pasang surut, namun ia terus menggelora secara abadi. Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunyai titik batasnya.Revolusi kami, seperti juga samudera luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta. Dan aku tahu waktu itu bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Esa (hlm. 77-78).

Kita tentu maklum, bahwa Sukarno yang Islam, masih punya darah Hindu dari ibunya yang adalah orang Bali. Tapi renungan Trimurti di bawah pohon sukun yang tumbuh di atas tanah mayoritas Katolik, menunjukkan bahwa agama bukanlah pemisah. Hukum agama tak akan melebihi hukum Tuhan, yang oleh keesaanNya, mampu menyatukan semua makluk ciptaan. Dengan keluar dari sekat agama, kita bisa memikirkan bangsa dan revolusi yang didengungkan Soekarno. Nah, masih relevankah berbicara tentang fanatisme, dan mendasarkan negara pada salah satu agama?

Di Ende, Soekarno juga menulis beberapa lakon yang salah satunya seperti merepresentasikan hari kemerdekaan Indonesia. Lakon Dr. Syaitan, yang dipentaskan di Aula Imakulata mengisahkan kebangkitan orang mati melalui operasi di sebuah laboratorium yang anggota timnya berjumlah 8 orang (bulan kemerdekaan?). Laboratorium itu memiliki pipa penghubung yang panjangnya 45 meter (tahun kemerdekaan?) Mayat yang dioperasi belum utuh, sehingga dicari mayat seorang lain lagi, yang justru di temukan antara Km 16 dan Km 18 (tanggal kemerdekaan?).

Tentu saja, angka-angka itu bisa kebetulan. Tetapi menilik ketepatan dengan hari proklamasi, maka tidak berlebihan kalau Ende pun menjadi bagian dari sejarah kemerdekaan. Paling tidak, seperti juga lewat tujuh judul lakon yang lain, Soekarno tak berhenti mengobarkan revolusi di masa pembuangannya di Ende. Kalau ia dilarang untuk berpidato di depan umum, ia toh masih tetap berkutik dengan taring pidato yang tersembunyi di balik panggung sandiwara. Bahkan di luar panggung, Soekarno bersekutu dengan pedagang Cina untuk mengirim surat-surat rahasia kepada rekan-rekannya di Jawa seperti dr. Soetomo dan Muhamad Thamrin. Ang Hoo Lian yang sering ke Surabaya, selalu menyelipkan balasan surat untuk Soekarno di keranjang sayur, dan menitipkannya di toko The Leeuw yang kini sudah menjadi Hotel Cendana. Dengan cara itu, perjuangan tetap diteruskan. Atau menurut kata-kata Soekarno sendiri, revolusi mengalami pasang naik dan pasang surut, namun tetap menggelora secara abadi. Dan setelah sekian tahun merdeka, kita tahu, revolusi itu belum selesai.

Judul : Bung Karno dan Pancasila

Penerbit : Nusa Indah

Cetakan kedua: 2006

Tebal : 104 halaman.

Harga : Rp. 25.000,00

Kamis, 07 Agustus 2008

FILOSOFI SEPAK BOLA


Olanama

“Mereka yang lambat, tak ikut bermain”, demikian kata filsuf Plato. Maka dalam susunan the dream team ala Kolumnis Thomas Grassberger, Plato adalah kapten kesebelasan. Sebab ia menyukai tempo tinggi. Penyair Frans Kafka yang menjadikan setiap detik adalah final bagi kehidupan, menempati posisi bek kanan. Sebab ia bergegas mempertahankan gawangnya demi merebut kemenangan. Dan pendamping Kafka di sektor kiri adalah Arno Schmidt, pendekar apokaliptik yang menuntut manusia harus selalu tergesa-gesa. Sebab setiap hari, kata Schmidt, adalah hari Sabtu di musim kompetisi di mana manusia harus bertanding dan terus bertanding. Pelapis Schmidt di bagian depan tidak lain adalah Charles Baudelaire, yang mengatakan bahwa hidup hanya mempunyai pesona tunggal yakni permainan. Jika kita masuk ke dalam suatu permainan, maka pertanyaan filosofisnya adalah: “ Maukah anda menang atau kalah?”

Dua andalan tengah yang lain ditempati oleh dua penyair besar pada zamannya, Goethe dan Dante. Goethe mengadopsi lari sebagai gerak utama dalam sepak bola untuk dijadikan antonim dari kemalasan. “Lebih baik lari daripada bermalas diri.” Tapi lari tidak hanya terbatas pada gerak cepat dua kaki manusia sebagai tumpuan. Jika kaki itu akhirnya patah atau rubuh, masih ada Dante yang tegas menulis dalam Infernale Firenze: “Yang satu roboh, yang lain tegak megah. Dengan kepala ia meloncat. Ia bertahan dengan menaruh kepala pada kakinya.”

Bila bertahan dengan kepala pun masih belum meyakinkan, masih ada sayap kanan depan atas nama Ror Wolf, si penyuka segala yang tinggi. Inilah kata-katanya: “Menembus angin, tinggi, tinggi, demikian tinggi orang melihat bola lemah melambung, gemulai tanpa suara, bercahaya bagai bulan pucat, bolanya dibelai di langit tinggi, dari semuanya ia menjauhkan diri.” Dan umpan lambung Wolf ini akan disambut oleh Petrarca, ujung tombak yang rakus gol, seperti dikatakannya: “Gol-gol itu datang dalam kawanan tanpa akhir.” Kelak, sesudah pesta gol yang menegaskan batas antara kalah dan menang, Grassberger menempatkan Karl Valentin di sayap kiri. Valentin yang realistis, melihat kekalahan dan kemenangan sebagai suatu fakta yang tak terbantahkan. Dan di bawah mistar gawang, berdiri Peter Handke, si penyair tanpa ketakutan. Penalti di lapangan hijau dan perang yang berkecamuk, dihadapinya dengan berani. Sebab kata Handke, “Dari kodratnya sepak bola itu tiada berjiwa.”

Demikianlah para filsuf dan penyair meramu metafor untuk kehidupan yang ternyata berlaku juga untuk sepak bola. Di dalam bola ada pergulatan dengan kerasnya kehidupan yang tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Johan Cruyft, legenda sepak bola Belanda pernah menulis: “Ada tiga menit dalam tiap pertandingan, yang tiap momentnya terbagi-bagi.” Kemenangan dan kekalahan sering ditentukan hanya dalam tiga menit untuk membuka mata kita akan realita hidup yang kadang penuh kejutan. Ada tragedi dan tangis bagi yang kalah. Ada komedi dan gelak tawa bagi yang menang. Dan karena dinamika kalah menang itulah, maka sepak bola menjadi olahraga yang paling banyak digemari.

Di ajang Eltari Memorial Cup 2007, tim sepakbola dari berbagai kabupaten di NTT mengalir ke satu titik di kota Atambua, Belu. Ketika bola pertama didepak dari kaki Wakil Gubernur, terasa ada yang gemuruh di langit Stadion Haliwen. Bola yang terbuat dari karet itu menarik ribuan pasang mata untuk hanya memandang dia. Lingkaran ajaib itu berputar di tanah maupun udara- seperti kata sastrawan Radhar Panca Dahana- mengorbit dalam gerak acak di antara langit dan bumi yang beremanasi di kedua kaki para seniman sepak bola. Dan di Haliwen yang gemuruh itu, bertaburan para bintang dari jagad sepak bola NTT. Kita bisa mencatat nama-nama seperti, Castelo Branco , Trio Langakamau, Ardi Pukan, Frans Sabon, Deus Wala, Frans Simposius, Fridz Zarbani, Raviki Keling, Dion Nonggor dan masih banyak yang lainnya.

Tetapi di harian Flores Pos, bersamaan dengan liputan pembukaan Eltari Memorial Cup (ETMC) yang menelan biaya 800 juta itu, kita juga disuguhi cerita tentang NTT yang kekurangan sekitar 110.000 ton beras untuk kebutuhan masyarakat hingga Desember 2007. Tak ada hubungan antara sepak bola dan beras, tapi tentu ada kaitan antara lapar dan kepadatan manusia di tepi lapangan bola. Kerumunan di tepi lapangan akan meninggalkan stadion sesudah pertandingan usai dan mendapati hidupnya masih seperti dulu. Di tengah kemiskinan, sepak bola menjadi hiburan yang menyenangkan. Tetapi di luar lapangan, bola bundar itu tak lebih dari gelembung udara kosong. Sama kosongnya dengan perut yang menahan lapar. Davor Suker, ujung tombak Kroasia ketika membobol gawang Denmark di penyisihan piala Eropa 1996 mengakui : “Luar biasa. Sepak bola adalah hidangan ternyaman yang dapat mereka (orang Kroasia) peroleh. Saya tidak membuat mereka kenyang, tapi bahagia.”

Kata-kata Davor terbukti menyulut patriotisme orang Kroasia untuk menjadikan bola kaki sebagai perang melawan penindasan. “Bagi rakyat Kroasia. Lolos dari kualifikasi Piala Eropa terasa bagai perebutan kembali tanah Krajina dari tangan Serbia, kata Nadan Vidosevic, presiden Liga Kroasia waktu itu. Pelatih Blazevich menambahkan, “Sepak bola adalah perang.”

Senada dengan patrioritisme orang Kroasia, kita pun ingin sekurang-kurangnya sepak bola menjadi inspirasi untuk keluar dari penindasan kemiskinan yang bertahun-tahun membelenggu NTT. Sayangnya, kita tak mendapati kiat untuk memenangkan, baik bola di lapangan hijau, maupun orang banyak di kantung-kantung kelaparan, kurang gizi dan busung lapar. Dari sekian banyak reportase ETMC, amat jarang pelatih berbicara tentang teknik dan pola permainan yang diperagakan oleh anak-anak asuhnya. Berbeda dengan sepak bola dunia yang lebih mengandalkan strategi pelatih, ETMC seperti hanya mengandalkan kepiawaian para pemain. Ketika halangan terjadi dalam diri pemain andalan itu, kita tak bisa berharap pada kesigapan pelatih merubah teknik dan taktik untuk menjadikan permainan lebih menghibur.

Pemain andalan untuk memenangkan lapar di NTT, adalah para pengambil keputusan di pemerintahan. Tapi karena ketiadaan teknik dan pola permainan yang elegan, maka NTT menjadi provinsi ke-4 termiskin di Indonesia. NTT bahkan menjadi provinsi paling rendah dalam indeks pemberdayaan manusia, sesuatu yang sangat berbanding terbalik dengan besarnya dana yang masuk ke kas daerah. Padahal, dalam sepak bola, yang terjadi adalah perang melawan kelemahan, agar kita keluar sebagai pemenang. Perang itu tak harus mengangkat senjata, melainkan adopsi dari sepak bola menyerang, untuk menjadikan hidup masyarakat NTT tidak melulu kalah. Tapi bagaimana filosofi perang itu?

Gol adalah tujuan akhir. Suburnya gol ibarat tingkat kemakmuran yang menggembirakan hati. Kita menyaksikan bagaimana ideologi gol menarik para pemain belakang untuk ‘bernafsu’ menyerang, seperti yang diperagakan oleh Roberto Carlos, Rio Ferdinand dan Markus Cafu di piala dunia. Kerap terjadi satu serangan didukung hingga 6-8 orang di mulut gawang, sehingga pertahanan pun sering dilapisi 8-10 orang. Semua bergerak, semua berbicara, para tifosi berteriak dalam ragam ekspresi. Dalam penyerangan yang aktif itu, sepak bola bermetamorfosa menjadi milik orang banyak. Dengan kata lain, sepak bola adalah sebuah keberpihakan.

Dan ketika seluruh stadion bergemuruh oleh riuh gerak, wicara dan kata-kata, permainan pun berubah menjadi sebuah prosa. Radhar Panca Dahana menyebutnya sebagai bahasa yang riuh, seperti hidup di terminal, di kota besar, di sehari-hari kita. Kepentingan pribadi dinomorduakan. Final atas kemiskinan NTT akan kita tunggu dari gubernur baru yang tidak ingat diri.


Senin, 21 April 2008

SOKRATES

(sari pidato yang batal dibacakan pada sebuah acara wisuda STFK Ledalero)

Oleh Olanama

Sejarah boleh dibengkokkan, tapi sejarah tak akan melupakan seorang Sokrates. Pada hari ketika ia menenggak racun maut itu, kebenaran sedang diangkat pada tempatnya yang mulia. Tetapi kebenaran selalu bermuka dua. Ia harus diwartakan sekaligus disembunyikan bila manusia dihadapkan pada pilihan yang pelik: mati demi kebenaran atau menyerah demi keamanan diri. Dan Sokrates memilih mati. Mungkin karena ia lebih dari seorang guru. Ia adalah seorang nabi.

Tidak banyak orang berpikir bahwa Sokrates adalah kombinasi yang serasi antara ayah yang pematung dan ibu yang mengabdi pada kesehatan. Menjadi pematung berarti bekerja dengan prinsip proporsional agar patung yang dihasilkan bisa seimbang dan tampak hidup di mata orang. Dan menjadi bidan berarti bekerja untuk keutuhan fisik agar jiwa bisa tentram. Maka berlebihan kalau Sokrates dituduh merusak generasi muda, karena hal itu bertentangan dengan prinsip proporsi seorang pematung dan prinsip kesehatan seorang juru rawat. Tapi Sokrates telah mati karena sebuah proses pendidikan dilihat sebagai perusakkan manusia.

Hari ini, jika pendidikan berpikir itu telah merusakkan manusia maka Sokrates selayaknya minum racun. Tetapi pendidikan itu sedang dihargai dan diakui oleh negara karena kedudukannya sebagai pembangun manusia. Kalau toh banyak kenyataan sosial kemasyarakatan bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan, maka dalam analoginya yang sederhana, kita ibarat sedang merasakan racun pahit pendidikan itu. Sebab, apa artinya hari wisuda kalau fungsi kenabian tidak terlaksana di mata masyarakat?

Ada macam-macam nabi. Ada nabi yang dipuja karena prestasi akademiknya yang gemilang. Ada nabi yang dicaci karena kegagalannya menyelamatkan perahu bangsa yang retak. Dan ada nabi kesiangan yang menjunjung kepalsuan di mulutnya. Tapi hakekat seorang nabi adalah kesaksian hidup dan ketegarannya dalam menghadapi kezaliman.

Dalam konteks kesaksian hidup, seorang sarjana adalah nabi dengan pengertian yang amat utuh. Ada prinsip untuk menjadikan kebenaran sebagai watak ilmiah dan pikiran kritis sebagai pisau bedah bagi penyakit kebohongan yang telah menjadi maniak dalam tubuh bangsa ini. Tetapi kebenaran selalu bermuka dua dan sikap kritis sering berwajah kompromi. Dan inilah yang kita takutkan sebagai hantu bagi fungsi profetis kaum intelektual di abad 21. Kita tak bisa menutup mata ketika mahasiswa dengan suara parau meneriakkan kebobrokan Orde Baru, tetapi setelah masuk ke dalam struktur, mereka tiba-tiba menjadi tikus yang patuh di bawah ketiak birokrasi. Di manakah letak kebenaran dan fungsi kritis yang pernah diteriak-teriakkan?

Ketika Sokrates memberondong kaum muda Athena dengan pertanyaan-pertanyaan, ia sebenarnya tengah mengupas persoalan bangsa seperti ayahnya mengupas bagian yang tak perlu dari sebuah proses pembuatan patung. Kaum muda diajak untuk berpikir dan akhirnya mengupas bagian yang tak perlu dari sebuah bangsa yang mendekati kehancuran. Tetapi resiko mengupas keadaan adalah mereguk racun dari gelas-gelas maut. Racun itu bisa berupa bubuk amunisi yang merobek tubuh para mahasiswa. Gelas maut itu bisa berupa tabung-tabung peluru yang menembusi jiwa para demonstran.

Tapi yang dituntut dari mahasiswa tentu lebih dari sekedar demonstrasi. Ada keharusan membangun keluhuran jiwa (psike) untuk dikonfrontasikan dengan status quo. Sebab hanya dalam pribadi yang punya keluhuran jiwa terdapat kemampuan untuk mengabaikan status quo demi kebenaran dan keadilan. Hak asasi harus dipulihkan, pemerataan pendapatan harus diusahakan, bila perlu dengan mengorbankan nasi di piring dan tidak lupa menuntut pemerintahan yang bersih. Tidak mencuri milik bersama dan makan sendiri ( korupsi), tidak mencuri milik bersama dan makan dengan sesama kawan (kolusi), tidak mencuri milik bersama atau membagi jabatan untuk keluarga ( nepotisme).

Tentu mewujudkan semua impian itu secara simultan di tengah Indonesia raya yang babak belur, rasa-rasanya seperti menggantang asap. Tapi menyandang sebuah idealisme di kepala mengingatkan kita akan pengetahuan sebagai keutamaan yang melebihi ijasah formal. Di dalam pengetahuan terdapat kandungan etika yang menegaskan bahwa: Pertama, orang terpelajar tidak akan melakukan hal-hal negatif. Ia hanya bisa berbuat salah karena keliru atau tidak tahu. Dia tidak sengaja karena tidak tahu apa yang baik baginya di luar disiplin ilmunya. Masalahnya kita hidup di dalam dunia di mana banyak orang sengaja membutakan matanya untuk tidak mengetahui apa yang baik itu. Bisakah kita menjadi nabi di tengah jutaan orang buta?

Kedua, orang terpelajar menyadari pengetahuan sebagai keutamaan dengan hakekat tunggal, sebagaimana kebaikan berlaku umum untuk semua bidang kehidupan. Dengan kata lain, pengetahuan adalah kebaikan tunggal yang harus ditularkan. Masalahnya kita hidup di jaman spesialisasi di mana setiap orang merasa diri pintar pada bidangnya. Bisakah kita menjadi nabi di tengah jutaan orang pintar?

Bukan kebetulan bahwa lulusan tahun akademik ini berada di arus milenium. Persoalan dunia, gereja dan bangsa tidak bisa diterka kemana arahnya, tapi yang pasti bahwa kita bersentuhan dengan keadaan yang tak menentu itu. Waktu itulah kesarjanaan kita diuji dan kenabian kita ditantang. Sokrates akan berjalan pada setiap ruas abad dengan gelas racun di tangan untuk menyodorkan kepada kita, betapa tidak gampangnya menerapkan rumusan abstrak pengetahuan kita dan menarik definisi yang mudah dicerna masyarakat. Lebih sulit lagi, bagaimana kita mengaplikasikan filsafat di tengah kehidupan yang pragmatis ini. Pertanyaannya barangkali: Apakah kegunaan filsafat? Apakah saya tidak menyesal belajar filsafat?

Jawaban atas pertanyaan di atas terletak pada kreativiitas dan eksplorasi sebagai buah yang diharapkan dari pola pendidikan kita. Apalah gunanya pendidikan jika seorang sarjana di masa pendidikan dirasuki oleh apa yang oleh Ivan Illich disebut kurikulum tersembunyi yang mengajarkan orang untuk menerima secara pasif dan bukannya kritik atas gagasan yang dilontarkan? Apalah artinya pendidikan yang membebaskan kalau seorang mahasiswa dicekoki gagasan tunggal di kepalanya bahwa prestasi intelektual terhebat adalah menghafal diktat-diktat seolah-olah hanya satu jawaban pasti untuk setiap pertanyaan. Dan apalah gunanya pendidikan kalau seorang sarjana merasa asing di tengah persoalan hidupnya sambil melihat dirinya terlunta di tengah sempitnya lapangan pekerjaan?

Kita barangkali harus mencurigai rumus-rumus asing dan indoktrinasi yang membelit sistem pendidikan kita menjadi boneka yang ventrilonquist. Di belakang layar kita seakan pandai bersuara, tetapi yang keluar adalah bahasa teknis dan bukannya ekspresi diri. Tapi kita tak perlu melarikan diri, sebab kemuliaan sang guru terletak pada ketegarannya menghadapi persoalan. Kelak kalau kemuliaan itu tidak ada pada kita, barangkali karena nilai sebuah kemuliaan selalu tak ada taranya. Sekurang-kurangnya kita tidak ingin mengkhianati sang guru dalam menampakkan pratanda Allah, mengupas bagian yang rusak dari negara ini dengan pisau keberanian dan kejujuran. Sokrates telah menampakkan pratanda itu, yang oleh Plato disebut monion semenion. Berani menerima tugas profetis sebagai intelektual berarti berani menampakkan jejak Tuhan di dunia ini.

Akhirnya, sebuah permulaan sedang berlangsung untuk menempatkan diri di tengah dunia. Kita tidak harus menjadi sarjana untuk mengerti semua persoalan hidup. Tapi sikap dan cara hidup kita menunjukkan setinggi apa kelas seseorang dalam masyarakat. Barangsiapa menyangsikan kesarjanaannya, silahkan merobek ijasahnya di depan Sokrates.

Rabu, 09 April 2008

Mengenang Eskoda


Oleh: Olanama

Tak ada yang ingat persis, kapan ia melenceng dari jalan dan membentur pagar tembok di jalan Eltari. Isi kepalanya terburai. Rekan-rekannya di Flores Pos, harus membolak-balik koran lama, untuk mengingat tanggal kematiannya. Dia hanyalah lelaki dekil yang tidak sempat menikah. Hidup di kamar darurat. Merokok. Melukis. Sesudah itu mati. Dan tentang kematian, ia menulis:

Kuusung jenasahku sendiri
Menyinggung tepian samodra
Angin yang mengawal pantai
Menebar bau kematian ini

Kumakamkan diriku sendiri di sini
Tanpa kembang seribu janji
Tiada pula syair-syair kebangkitan…

Puisi yang tercatat di seri Buku Vox ini, ditulis Eskoda tahun 1999 ketika masih belajar di Ledalero. Waktu itu ia masih berkemauan menjadi seorang imam. Tapi idealisme membawanya pergi dari biara, dan mengabdikan hidupnya hanya kepada seni. Lihat saja berbagai karikatur yang pernah menghiasi halaman Dian dan Flores Pos antara tahun 2000-2003. Lihat saja berbagai lukisan yang tergantung, baik di Nita Pleat, Maumere, semasa masih kuliah, maupun di Biara santu Yosef, Ende, semasa menjalankan orientasi pastoralnya. Om Sius teman kosnya di jalan Eltari seperti masih mencium bau cat dari sisa lukisan Eskoda. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa selain mati sebagai pelukis, Eskoda yang mantan wartawan Flores Pos itu, juga adalah seorang penyair. Puisi-puisinya tersebar di setiap terbitan majalah dinding kampus, maupun di halaman seri buku Vox. Tesisnya tentang Chairil Anwar menunjukkan besarnya minat pada puisi. Bahkan cara ia merokok, tak ubahnya Chairil Anwar dalam kumpulan puisi: Aku Ini Binatang Jalang.

Apa pentingnya Eskoda? Idealismenya. Ketika sama-sama bekerja di dapur majalah Vox, Eskoda telah menyatakan niatnya untuk menggali sastra Flores, yang menurutnya, masih seperti lahan tidur. Para pegiat sastra Flores masih bisa dihitung dengan jari, itu pun hanya sekedar memenuhi hobi. Kita hanya bisa mencatat Dami N. Toda yang mendunia. Selebihnya, tak seorangpun benar-benar terjun ke dunia sastra. Ada John Dami Mukese dengan Doa-Doa Semesta dan Puisi-Puisi Jelatanya. Mukese, sehari-harinya adalah seorang pastor. Ada Maria Matildis Banda, juga tidak benar-benar purna waktu. Dan ada puluhan penulis lainnya yang menyebarkan tulisan secara temporal di koran lokal. Satu-satunya terobosan, telah dibuat oleh Ledalero lewat festival yang menghasilkan kumpulan Cerpen dan Puisi: Tapak-Tapak Tak Bermakna.

Idealisme yang ditawarkan Eskoda, masih berupa mimpi yang telah coba diterjemahkan dalam hidupnya. Dalam pembicaraan suatu hari di tahun 2000, ia sempat ragu antara memilih jalan imamat dan jalan sastra. Saya meyakinkannya dengan sebuah surat dari Rusia. “Tentu, teman menyisakan pertanyaan tentang bagaimana tugas pokok sebagai imam. Tapi imamat adalah suatu tamasya yang menyenangkan. Kapal yang membawamu pergi akan menyinggahi seribu tempat untuk melahirkan puisi yang tidak akan kau ciptakan bila kau diam di rumah dan mengurus anak-istrimu. Kau hanya akan sedikit direpotkan dengan doa untuk menyenangkan penderma dan para pemimpin agamamu, dan tentunya merayakan misa seperti apel bendera di senin pagi. Tapi ada beda, bahwa dulu pada setiap hari senin kita menggerek sepotong kain kumal untuk mendengar amanat inspektur upacara yang klise dan membosankan. Sedangkan kini dalam khotbahmu, engkau menggerek beribu-ribu lembar Kitab Suci yang isinya penuh muatan sastra, lebih-lebih Perjanjian Lamanya yang mempesona.

Di kemudian hari ketika Eskoda meninggalkan biara, saya tahu, surat itu tidak mempan. Dia tidak membalasnya. Tapi dengan tekun saya mengikuti setiap investigasinya di Flores Pos. Ia memburu berita. Ia Melukis. Ia menulis puisi dan artikel. Sendirian. Tidak menikah. Mati. Tak seorang pun peduli idealisme apa yang pernah Eskoda usung. Tapi dari produktivitasnya yang tercecer di sana sini, dia telah menyumbang sesuatu yang berharga bagi seni.

Lalu bagaimana dengan sastra Flores yang pernah sesumbar untuk ia gali? Sepertinya kematian memenggal segala. Ia yang sendirian di liang kuburnya, telah memproklamirkan kesedihan itu. “Kuusung jenasahku sendiri menyinggung tepian samodra. Angin yang mengawal pantai menebar bau kematian. Kumakamkan diriku sendiri di sini.Tanpa kembang seribu janji. Tiada pula syair-syair kebangkitan.

Eskoda telah berjuang untuk mengusung idealismenya. Lilin yang coba ia nyalakan tak kuat melawan angin. Ia memakamkan kegagalannya sekaligus memadamkan lilin yang coba ia nyalakan. Ia juga seperti ragu akan kebangkitan. Hingga ajalnya, tak pernah ada perbincangan tentang sastra Flores. Jika sekali kelak Flores mewujudkan diri sebagai provinsi, kita pun harus bicara tentang tradisi kebudayaan dan khasanah sastra daerah. Tapi jejaknya tidak pernah kita tahu dari mana. Tidak juga dari Eskoda.

Sedianya saya menulis lagi sebuah surat untuk menantang. Di catatan harian, tertulis 14 April 2003. Siapa mengira kalau tanggal itu adalah hari kematian Eskoda? Surat itu tak jadi dikirim setelah mendengar berita kematiannya. Membaca ulang surat itu terasa seperti menggali potongan mimpi yang terpenggal.

“Eskoda….

Gairah untuk memperistrikan sastra menggebu-gebu di sini, ketika kita mendapati hampir semua orang amat gemar membaca. Di ruang-ruang tunggu, di bangku-bangku metro dalam kepadatan penumpang, bahkan di atas jambangan selagi mencemplungkan tinja, orang tak berhenti membaca. Tentu tidak semua membaca sastra. Tapi menilik kenyataan bahwa para sastrawan besar Rusia sangat dimanjakan oleh apresiasi masyarakatnya, kita bisa memastikan bahwa karya mereka tidak tinggal diam di rak-rak buku berdebu. Kita bisa dengan gampang menemukan satu bait puisi Aleksander Pushkin pada sesobek kertas. Kita bisa menjumpai patung Gorki atau Tolstoi atau Destoyevski yang tegak di setiap kota kelahiran mereka. Dan kita bisa mendengar karya mereka dibacakan pada setiap peringatan hari ulang tahun. Satu langkah lagi kita harus memindahkan gairah ini ke sebuah pulau kecil, Flores, tempat di mana sastra akan dikawinkan dengan tradisi budaya kita yang kaya namun belum terjamah.

Kini, setelah empat tahun kematiannya, tak ada tanda kebangkitan yang berarti. Seperti ingatan yang kabur tentang kapan meninggalnya seorang Eskoda.

Selasa, 11 Maret 2008

Anomali Flores

FLORES PROVINSIKU, JAWA BAHASAKU
Oleh: Olanama


Barangkali analogi ini agak dipaksa-paksakan. Seseorang telah mulai menampakkan tanda-tanda pikun, ketika pulang dari kamar kecil tanpa menutup resleting celananya. Atau lebih dari sekedar pikun, ada juga yang langsung membuang hajat di celana. Dan cerita tentang cara berbahasa Indonesia yang baik, mungkin datang dari celana. Tidak sekedar membuang kata seperti si pikun membuang hajat. Melainkan dengan kaidah yang tepat.
Guru-guru mengajari kita bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan. Ada murid yang dipaksa menelan daun pepaya mentah ketika terjebak bicara bahasa ibu. Mulut seorang teman bahkan disulut dengan puntung rokok karena lalai berbahasa Indonesia. Dan siapa pernah berpikir kalau akhirnya terjadi lompatan besar dalam cara berbahasa setiap kita. Di ruang baca dan percakapan, di kotak televisi, tak hanya terdengar kata-kata Indonesia, tapi juga Inggris, dan aksen Jawa.
Coba simak kutipan berikut: asyik niye, emangnya gue pikirin, gitu lho, tenang aja, oh my god, yes of course, akhirnya dia married juga. Tak kurang dari seorang penulis bernama Remy Sylado, menjadi berang dengan kekacauan ini. Alih-alih tampil beda, para pelajar dan elite politik mengajari rakyat bermain gincu dengan bahasa yang rancu. Remy menyesalkan kata-kata yang menyembur dari mulut para pesolek bahasa. Dan ia masgul, jangan-jangan ikrar pemuda di tahun 1928 melaju ke prayojana baru, satu nusa dua bahasa. Sebab, bahasa Indonesia, kata Remy, telah diperkosa menjadi semacam gado-gado. Beberapa contoh menjelaskan hal ini. Di tahun 2001 para petinggi yang nota bene adalah terpelajar, menghadapi wawancara di banyak media. Sekjen MPR, Umar Basalim di SCTV mengatakan, “Bagaimana pun, the show must going.” Ia menyebut Sidang Istimewa menjatuhkan presiden Gus Dur, sebagai suatu show. Di TVRI, Jendral Sudrajad mengatakan, “Pemimpin politik harus memenangkan followers-nya.” Di majalah Gatra, Amien Rais bilang, “Pertemuan tersebut menghasilkan unspoken conclusion.” Dan di Metro TV, Sri Mulyani mengomentari reaksi pasar atas kebijakan baru dengan berkata, “Kalau good news, mereka akan sambut, kalau bad news, mereka akan punished.”
Tapi itu penyakit pejabat. Mereka perlu malu, bahwa puluhan tahun lalu, pendahulu kita menyerap dengan baik kata-kata asing agar tidak latah seperti beo. Kata-kata seperti: dokar, cikar, peri, musti, peluit, sama, justru dan hore merupakan serapan elegan dari: dog car, cheek car, fairy, must, flute, same, just true, dan hurrah. Bahkan di Flores, kata lego jangkar diserap dari kebiasaan Belanda yang membuang sauh sambil berseru, let’s go.
Kecanggihan menyerap bahasa itu, kini tak ada lagi. Yang ada hanyalah menelan bulat-bulat bahasa orang. Maka ketika bicara tentang provinsi Flores, kita kesulitan mencari identitas budaya yang mestinya nyata dalam bahasa. Mungkin akan lebih mudah membentuk provinsi Jawa di Flores, ketimbang memikirkan provinsi Flores tanpa identitas.
Kita prihatin bersama Remy Sylado. Tidak ketinggalan, seorang pekerja radio di sebuah ruang diskusi. Dengan nada prihatian, penyiar wanita itu mengutip temuan para pengkaji masyarakat Flores di Universitas Erlangga. Orang Flores menurut temuan itu, suka membanggakan masa lalunya, terlebih yang bangsawan. Mereka tak ingin diinjak martabat dan harga dirinya, tapi secara tidak sadar merendahkan martabatnya.
Tak ada penjelasan lanjut dari wartawati radio itu, namun kita membayangkan sebuah harkat yang dijual demi ekonomi. Kita merantau untuk memperkaya majikan, sementara banyak lahan garapan telantar di kampung halaman. Di Jakarta, orang Flores bisa menjadi tukang pukul. Kalau terpaksa mencuri, ia akan membuat tanda salib. Sebab dia Katolik. Dan sekembalinya ke kampung halaman, ia akan menyelipkan kata enggak untuk mengatakan tidak.
Malam sesudah diskusi itu, RRI Ende mengudara. Dari baterei yang suak, masih sempat terdengar suara latah sang penyiar, “Okey, deh, kita dengerin lagu, yuk.”